Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 7

Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 7by adminon.Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 7Taman Sang Dewi – Part 7 Taman Sang Dewi Piece 6 (Orang-Orang Yang Meninggalkan Dan Orang-Orang Yang Ditinggalkan) Lagu tema Mau tau banget, apa kebangetan mau tau ? Fuuuhhhhh, Safira menghembuskan nafasnya, diiringi kepulan asap dari dalam mulutnya. Dia menatap layar kaca yang ada dihadapannya, menyaksikan acara kartun yang tersiar di minggu pagi. Terdengar gemericik […]

multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-5 (2) multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-8 (2) multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-9Taman Sang Dewi – Part 7

Taman Sang Dewi
Piece 6 (Orang-Orang Yang Meninggalkan Dan Orang-Orang Yang Ditinggalkan)

Lagu tema

Mau tau banget, apa kebangetan mau tau ?

Fuuuhhhhh, Safira menghembuskan nafasnya, diiringi kepulan asap dari dalam mulutnya. Dia menatap layar kaca yang ada dihadapannya, menyaksikan acara kartun yang tersiar di minggu pagi.

Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, tak lama seorang pria keluar dengan berbalut handuk yang melingkari tubuh bagian bawahnya.

Kamu habis ini ada tamu lagi ? tanya si pria yang masih terlihat muda, seraya melepas handuknya, lalu mengambil celana dan memakainya.

Gak ada kakak, aku mau ke Detos, belanja, jawab Safira dengan senyum manis ke arah si pria.

Wah kebetulan aku juga mau ke daerah sana, si pria Nampak sumringah sambil mengenakan kemejanya, mau bareng ?

Ah. Baik banget sih kakak, Safira berdiri lalu berjalan menghampiri si pria, sebuah kecupan mesra diberikan di pipi si pria, aku ganti baju dulu yah.

Tak lama setelah mereka berdua rapi, mereka berjalan beriringan menuju depan gang, nampak Safira menggandeng tangan si pria dengan sangat erat. Distop sebuah taksi lalu mereka berdua menaikinya.

*****

Kita pisah disini ya, ucap si pria saat mereka berdua sampai di depan Detos.

Iya kak, makasih yah udah dianterin, ucap Safira dengan nada manja.

Hati-hati ya.

Kakak juga ya.

Cuuupppp mereka berdua berciuman tanpa malu di depan umum, dengan sedikit lumatan di bibir mereka.

Setelah itu mereka berduapun berjalan dengan arah yang berlawanan, menuju tempat tujuannya masing-masing. Safira melangkah dengan sangat energik menuju pintu masuk Detos.

Tin.tin, sebuah klakson mobil mengagetkan Safira, hai cewek

Safira sedikit jengkel dengan suara pria yang menggodanya, di lirik dengan sangat emosi arah suara tersebut. Nampak sebuah mobil VW safari warna hijau disampingnya.

Khafi ?

Hehehehe, kaget ya, Khafi tersenyum jenaka.

Ngapain lo disini ?

Hmmm, beli heatsink buat komputernya Dewi.

Lha, di daerah deket rumah gw kan banyak tuh took komputer, ngapain lo belinya disini ?

Udah dibeli kok, Khafi menunjukan kantong plastik tempat heatsing terbungkus.

Terus lo ngapain disini ? ada raut curiga di wajah Safira.

Hmmmm, macet banget tadi, gw sampe susah muter baliknya, akhirnya keterusan sampe sini.

Hah, perasaan tadi gw kesini gak macet deh, Safira semakin curiga.

Itu dia labilnya jalanan kota besar.

Safira berjalan menuju pintu kiri mobil, lalu tanpa dipersilahkan dia membuka pintu mobil dan masuk.

Gw anterin ke rumah Dewi, tapi lo temenin gw belanja dulu, gw perlu pendapat orang lain nih, sepertinya Safira paham dengan kondisi Khafi saat ini.

Ooohh lo mau main ke rumah Dewi abis dari sini, oke gw anterin nanti abis belanja, ucap Khafi dengan wajah sangat meyakinkan.

Suka-suka lo deh mau ngomong apa ?” dasar tukang nyasar.

Khafi menjalankan mobilnya menuju tempat parkir di dalam pusat perbelanjaan yang ada di kota Depok tersebut. Sementara Safira hanya tersenyum-senyum kecil memperhatikan ekspresi wajah Khafi yang terlihat polos, hhhmmm.

*****
Safira melangkah diantara pakaian-pakaian yang tergantung di toko pakaian khusus wanita. Jemarinya menyentuh-nyentuh pakaian yang ada di sampingnya, merasakan bahan yang terajut pada pakaian.

Hmmm, ini cocok gak ya sama gw ? Safira bergumam sendiri.

Coba aja dulu, Khafi menyahut seraya ikut memperhatikan pakaian yang sedang Safira perhatikan.

Safira tersenyum, lalu melangkah menuju kamar pas dengan membawa pakaian yang dia pilih, sebuah long dress hijau tanpa lengan, yang melebar bagian bawahnya.

Tak lama, Safira membuka gording yang menutup kamar pas.. jreng jengg

Gimana ? Safira tersenyum lebar, seraya memutar tubuhnya lalu menurunkan sedikit sendinya dihadapan Khafi.

Sementara Khafi hanya membeku, menatap Safira yang terlihat begitu anggun. Dengan tatapan mata biru, Safira mengerlingkan mata kirinya.

Apa ini di surga ? ucap Khafi, matanya masih terfokus dengan keanggunan Safira.

Um, Safira tersenyum, rona pipinya berubah merah, lalu menundukan sedikit wajahnya.

Hijau itu warna surga, ditambah seorang malaikat bermata seindah permata safir, goda Khafi, aahh pasti ini di surga.

Udah ah jangan ngelantur, Safira berbalik dan memasuki kembali kamar pas, seraya menutup gording, pipinya masih terlihat merah, seraya mencoba menahan senyum yang ingin tergores.

Safira melihat pantulan dirinya dari cermin, dia tidak langsung melepas pakaian, tapi masih asik memperhatikannya.

Hhhmmm, dasar Khafi, gumam Safira, senyum menyeringai kini tak dia tahan. Dia lepas segala ekspresi yang ingin dia keluarkan saat berada di depan Khafi.

Apa gw pantas ke surga ? Safira memutar-mutar tubuhnya, memperhatikan secara mendetail, setiap balutan dress yang menghiasi tubuhnya.

Dia masih tersenyum-senyum manis, menatap wajahnya yang masih bersemu merah. Dia tampar-tampar pelan pipinya, mencoba menghilangkan rona merah di pipi.

Sudahsudah, Safira langsung melepas pakaiannya, dan mengganti dengan pakaian yang tadi dia kenakan.

Dia singkap gording kamar pas, dan alangkah kagetnya dia saat melihat Khafi tersenyum di hadapannya.

Coba deh, kayaknya cocok buat kamu ! ucap Khafi seraya menyodorkan longdress warna putih, lengan panjang, dan ada sedikit renda yang bergelawir di ujung lengannya.

Nafas Safira sedikit tersengal, melihat pakaian yang ada dalam genggaman Khafi.

Ini ?

Iya, Khafi menatap dengan mata yang berbinar, surga itu punya dua warna, hijau dan putih.

Safira langsung mengambil pakaian dari tangan Khafi, lalu dengan sangat cepat kembali ia tutup gordingnya. Safira berbalik, menatap cermin di hadapannya, dia tempelkan long dress putih di dadanya.

Jantungnya mulai memompa darah lebih cepat, hingga suara detakannya mampu ia dengarkan. Bahkan getarannya dapat ia rasakan dari tangan yang menempel di dadanya.

Hei..heihei Fira, ada apa dengan lo ? dia berbicara dengan bayangannya sendiri yang ada di cermin. Kenapa tiba-tiba jantung lo berdegup kencang.

Nahnah..nah, pipi lo merah lagi tuh, Safira menunduk, tak mampu melihat wajahnya sendiri yang semakin bersemu merah.

Okeoke, tenangkan diri lo, tarik nafas dalam-dalam, pejamkan mata, Safira mengikut segala instruksi dari dirinya sendiri.

Setelah beberapa saat, dirasa kondisinya sudah mulai normal. Dia keluar dari kamar pas tanpa mencoba pakaian yang disarankan Khafi.

Lho kok, gak dicoba ? protes Khafi.

Bagus kok, udah yuk bayar di kasir ! ucap Safira tanpa berani menatap Khafi, dan langsung menarik tangan Khafi menuju kasir.

Berjalan dengan riang, diiringi langkah anggun yang mengayun, menyibak debu-debu halus yang bertaburan di lantai mall.

Safira meletakan pakaiannya di meja kasir, tangannya masih menggenggam tangan Khafi. Kasir mengambil bajunya lalu menghitung nominal yang tertera pada barcode.

Yang tadi itu pacar kamu Fir ? Khafi membelai-belai tangan Safira dalam genggamannya.

Bukan, Safira menggeleng dengan ceria.

Kok ciuman ?

Oh, hhmmmm, Safira nampak gugup.

Kalo dia liat kita, bisa marah nih.

Santai aja kok, Safira merangkul Khafi, Gak akan ada yang marah, walau ada yang ngeliat kita seperti ini.

Safira mengecup bibir Khafi, tanpa peduli dengan tatapan kikung sang kasir yang melihat aksi Safira.

Masih lembut, Khafi tersenyum, mengecap-ngecap bibirnya yang baru saja dikecup.

Setelah membayar, mereka berduapun pergi meninggalkan toko baju.

Khaf.

Ya.

Hhhhmmm, Safira nampak berfikir. Pandangan lo tentang cewek yang jual diri gimana ?

Khafi sedikit terkejut, lalu memandang Safira yang terlihat gugup disampingnya.

Um, Khafi memperhatikan Safira, pasti ada alasannya kenapa cewek berbuat seperti itu.

Mau itu perbuat baik atau buruk, pasti ada alasannya, Safira memelankan langkahnya.

Yah, Khafi memandang sekitar mall, perbuatannya salah apapun alasannya, tapi orang-orang disekitarnya memiliki andil kesalahan yang gak lebih kecil dari dia.

Kenapa bisa begitu ?

Karna, mereka tega, membiarkan ada orang di dekatnya yang harus menjual dirinya untuk kebutuhan hidupnya, nada suara Khafi nampak tegas.

Wah kalo begitu, pemerintah juga punya kesalahan yang sama donk. Karna pendidikan mahal harganya, jadi banyak pelajar yang menjual dirinya untuk membiayai pendidikannya, Safira kembali menggenggam tangan Khafi, berjalan semakin pelan menuju tempat parkir.

Jika seorang pezinah harus dihukum rajam, maka penguasa juga harus dihukum pancung, Khafi mempererat genggaman tangan mereka.

Wiiihhh, kerenkeren. Kalo elo nyalonin presiden, gw bakal milih lo, ucap Safira riang dengan senyum lebar menggores bibirnya.

Gak, aku gak mau jadi presiden, aku akan menjadi Dewa, aku akan merubah takdir buruk orang-orang di dekatku, menjadi takdir baik.

Termasuk gw, jika takdir gw buruk ?

Khafi dan Safira saling pandang, wajah Safira nampak bersemu merah, lebih merah dari yang tadi ia alami.

Pertanyaan bodoh macam itu, kamu tentukan saja sendiri !!! ucap Khafi tanpa keraguan.

Terjadi kebisuan selama beberapa saat, dan mereka masih saling pandang. Seakan waktu berhenti untuk memberi ruang kepada mereka berdua saling menyapa dalam diam.

Hhhmmm, gimana nih kelanjutan lo sama Dewi ? Safira coba mengalihkan perhatian, dia arahkan pandangannya ke toko-toko yang berjajar di dalam mall.

Eh, sejak kapan kamu kenal Dewi ? Khafi juga coba mengalihkan obrolan mereka.

Dan merekapun berjalan dengan langkah yang pelan. Khafi mengambil sebungkus kacang atom dari sakunya, dibuka lalu diambil satu buah kemudian dilempar keatas.

Hapkraukkraukkkkraukk, mulut Khafi dengan cekatan mengambil kacang yang dia lempar ke udara.

Emang kenapa lo nanya gitu ? Safira balik bertanya.

Kamu kayaknya peduli banget sama dia.

Mereka berdua telah sampai di depan eskalator, tapi Safira mengurungkan niatnya untuk turun, dia berjalan beberapa meter, dan duduk di sebuah bangku yang tersedia disana, Khafi juga mengikuti langkah Safira seraya masih melempar kacang lalu melahapnya dengan mulut.

Dia tuh orang pertama yang peduli sama gw saat gw baru pindah ke Jakarta, ucap Safira seraya menyandarkan tubuhnya. Gw lahir dan besar di Meulaboh, Aceh. Lo tau kan akhir 2004 ada musibah besar.

Tsunami ?

Ya, Safira menghela nafas sejenak, Keluarga gw sampe sekarang gak ketemu jasadnya, mungkin keseret ke laut terus kependam disana. Pokoknya suasananya kacau deh, semuanya hancur, termasuk sekolah gw. Saudara-saudara gw juga kepencar kemana-mana, serba gak jelas semuanya.

Krauk.kraukk..

Saat itu, paman gw yang di Jakarta, nyaranin gw untuk ikut dia, dan gw juga bakal di sekolahin di Jakarta. Gw pikir dengan kondisi Aceh saat itu, lebih baik gw pindah ke Jakarta, dan gw mengikuti saran paman gw, Safira memandang wajah Khafi yang terlihat asik mendengarkan diiringi kelakuan konyolnya.

Krauk.krauk..

Tapi gw masih belum bisa lepas dari trauma, gw masih dibayang-bayangi kengerian musibah itu. Denger suara-suara hantaman aja gw ketakutan, gw jadi pribadi yang suka menyendiri, suka bengong, bahkan tiba-tiba gw suka menjerit tanpa ada alasan tertentu.

Khafi melempar 5 buah kacang, lalu dengan sigap kepalanya bergerak kesana-kemari menangkap kacang yang berterbangan di udara, Kraukkrauk..kraukkkk.

Saat itu gw ke Jakarta, gw masuk ke sekolah yang sama dengan Dewi. Gw kelas 2 SMA dan Dewi kelas 1. Gak ada yang mau berteman dengan gw karna sifat gw yang seperti itu, tapi enggak buat Dewi. Dia duduk di pojok kantin tempat gw biasa duduk menyendiri saat jam istirahat, dia ngajak gw ngobrol-ngobrol. Awalnya sih gw rada cuek nanggepinnya, tapi Dewi dengan sabar terus deketin gw.

Jadi saat itu kalian mulai kenal deket ?

Yup, Safira tersenyum, dikepalanya berputar proyeksi beberapa tahun yang lalu, saat Dewi menyapanya dalam balutan seragam SMA. Dewi meminta pada orang tuanya untuk membawa gw ke psikiater, semua biaya ditanggung orang tua Dewi, hingga gw bisa bangkit dari trauma itu.

Aku kenal banget sama bapaknya Dewi, jadi gak heran kalau dia sebaik itu sama kamu, Khafi masih asik dengan lemparan kacang atomnya. Kraukkrauk.

Sejak saat itu, gw dan Dewi saling mensuport, gw lulus SMA dan keterima di universitas negri. Itu membuat Dewi semakin termotifasi dan akhirnya dia juga keterima di kampus yang sama dengan gw, walau beda jurusan. Gw ekonomi dan dia psikolog.

Hebat donk kalian berdua.

Lo tau kenapa Dewi ngambil jurusan psikolog ?

Enggak, Khafi menggeleng.

Kata dia, karna gw masih punya 1 trauma akibat tsunami yang belum hilang.

Apa itu ?

Sampai sekarang, gw takut ke pantai. Gw gak pernah mau ke pantai, padahal gw pengen banget menaburkan bunga di pantai Meulaboh untuk kedua orang tua gw dan 1 orang adik gw. Dewi pengen menghilangkan trauma itu, dan pengen gw melakukan keinginan gw itu, suatu hari nanti.

Khafi terdiam sejenak, menatap Safira yang ada di sampingnya. Kepalanya dibayangi oleh hal-hal berat yang Safira terima, dan dengan dukungan penuh dari Dewi, Safira mampu bangkit. Tangan Khafi masih aktif melempar-lempar kacang, mulutnya juga masih sigap menangkap kacang itu, walau matanya fokus ke mata Safira.

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan yang mengiringi setelahnya, Khafi menatap Safira dengan mulut penuh kacang atom, dia sedikit mengalami kesulitan mengunyah.

Tapi selalu ada kesulitan lain setelah kesulitan sebelumnya berlalu, wajah Safira berubah menjadi sedikit getir.

Apa itu ?

Nanti juga elo tau.

Safira berdiri, dimasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dia menatap langit-langit gedung, menghela nafas panjang, Yuk ah cabut, nanti Dewi kelamaan nunggu elo tuh.

*****

Jika dia bahagia disana, apa kamu harus bersedih disini ?

Kediaman Dewi.

Jemari lentik Dewi sangat lincah menari-nari diatas keyboard laptop milik Khafi. Kaca mata berbentuk persegi tipis menghiasi matanya, mata yang sedang serius menatap layar laptop.

Hai Dew, sebuah suara muncul dari arah belakang Dewi.

Eh Fira ? ucap Dewi saat menoleh ke arah suara tersebut. Dia menatap Safira heran, karna datang bersama Khafi.

Hehehehe, Safira seperti mengerti dengan raut wajah heran Dewi, tadi gw ketemu orang nyasar di Depok, ya udah gw anterin kesini deh.

Grrrrrrrrr over domeh, Dewi mendengus kasar dengan wajah sebal kearah Khafi.
Pantes lama banget beli heatsinknya.

Tadi di jalan ada nenek-nenek pikun mau ngelahirin, ya udah aku anterin dulu, ucap Khafi seraya berjalan menuju komputer Dewi yang sudah ia bongkar sebelum berangkat membeli heatsink.

Kayaknya alasannya beda deh sama yang tadi, Safira bergumam.

Alasan bodoh macam apa lagi itu, Dewi juga bergumam, membenarkan posisi kacamatanya lalu kembali mengerjakan tugas.

Khafi tidak memperdulikan gumaman mereka berdua, dengan obeng di tangannya, Khafi mulai melepas motherboard dari casing komputer. Dengan kuas kecil, dia sapu debu-debu yang menempel di sela-sela motherboard.

Dew, kayaknya dia cocok sama elo tuh ! Safira menyenggol pundak Dewi yang sibuk dengan ketikan di jemarinya.

Khafi maksud lo ? ucap Dewi tetap fokus dengan tugasnya.

Yoi, Safira mengangguk mantap.

Ogah, bisa stress gw kalo sama dia, buat lo aja Fir, Dewi sedikit sewot.

Lha kok malah kasih ke gw sih, orangnya asik tau Dew.

Tuh kan asik buat lo, ya udah sama elo aja. Kalo buat gw mah gak asik, Dewi merengus, mendenguskan nafas kasar seraya memandang sebal ke arah Khafi yang masih berkutat dengan komputer di hadapannya.

Gak asik gimana ?

Dia itu tukang nyasar, tukang ngutang, dan satu lagi, joroookkkkkkk, nada bicara Dewi sedikit mengeras, Khafi yang sedari tadi tak peduli, kini ia menoleh ke arah kedua wanita yang sedang membicarakannya.

Hah. Safira sedikit terkejut, untuk alasan pertama dia sudah tahu, tapi untuk yang kedua dan yang paling mencengangkan alasan ketiga, dan itu sangat ditekankan oleh Dewi.

Lo pikir aja Fir, Dewi menghentikan tarian jemarinya diatas keyboard. Minggu kemarin dia itu mancing dapet ikan sapu-sapu sama sesuatu yang seperti emas tapi menjijikan.

Maksud lo tai ? ucap Safira polos.

Jangan dipertegas !!! Dewi sedikit kesal. Nah Sabtu kemarin dia bikin bakso ikan pake tuh ikan hasil pancingannya.

Terus lo makan ?

Itu dia bodohnya gw, dan lebih bodohnya lagi, gw pulang kuliah saking lapernya, gw abisin tuh semuanya, gak ada yang gw sisain buat yang lain, jemari Dewi mengepal, beberapa saat kemudian, perutnya terasa teraduk-aduk, hoekkkk.

Gw gak nyangka Dew, Safira menggeleng-geleng, seraya tangannya memijat tengkuk Dewi.

Nah nyadar kan lo..

Iya, baru sadar gw, kalo elo sama tokai aja rakus, ejek Safira diiringi tawa.

Firraaaaaa !!!!

Khafi masih sibuk dengan komputer Dewi, di oleskan pasta pendingin pada bagian punggung prosessor, dan bagian bawah heatsink. Lalu mengaitkan kunci yang ada di sisi-sisi heatsink pada motherboard.

Tapi Dew, lo perhatiin deh Khafi, mirip.!!!

Kazam. Dewi membetulkan letak kacamatanya yang tersanggah di hidung mancungnya.Gw sadar kok sejak pertama ketemu, dan kata orang tua gw juga gitu.

Dan lo sadar gak ? Safira menghela nafas sejenak, akhir-akhir ini lo keliatan ceria, raut wajah yang udah lama gak gw liat dari diri lo, sekarang itu kembali lagi.

Tekkk, Dewi menghentakkan jari manisnya pada tombol enter sedikit lebih kuat, nafasnya terlihat mulai memburu, bayangan kekasihnya kembali berputar-putar di kepalanya.

Gw gak minta lo ngelupain dia Dew, tapi lo pernah bilang kan ke gw, gak selamanya kita menyesali apa hilang dari diri kita, pikirkan apa yang kita miliki saat ini, wajah Safira mulai terlihat serius, masih ada orang tua elo, gw, dan 1 lelaki gak jelas maunya apa, tapi gw yakin dia akan sangat berarti buat lo suatu saat nanti.

Dewi melepas kaca matanya, sedikit dia usap air mata yang nampak berlinang. Ya, gw paham, gw butuh waktu sedikit lagi Fir.

Sedikit demi sedikit Dew, pelan-pelan aja, Safira menepuk pundak Dewi, lalu berdiri. Gw cabut dulu ya.

Dewi hanya mengangguk dan membiarkan Safira pergi dari rumahnya. Pandangannya dia alihkan kearah Khafi yang kini sedang mencoba menyalakan komputer Dewi. Coba melihat kinerja komputer yang tadi pagi selalu mati setelah beberapa menit dinyalakan.

Sip, beres, Khafi berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya yang terkotori oleh debu-debu komputer.

Dewi hanya tersenyum getir melihat langkah jenaka Khafi yang nampak riang.

Dew, ucap Khafi sekembelainya dari kamar mandi, mata kamu kok berair ?

Laptop lo jelek pencahayaannya, bikin mata gw sakit, ucap Dewi setengah terisak.

Ah masa, gak mungkin laptop seorang master IT yang agung menyakiti pemakainya, Khafi sedikit pongah, didekatkan wajahnya ke wajah Dewi, melihat dengan jelas mata Dewi yang memerah.

Master IT kok isi laptopnya kebanyakan bokep sih, Dewi masih sedikit terisak, diiringi tawa kecil di bibirnya.

Eehhhh, Khafi menunjukan raut wajah yang kikuk, sangat kikuk karna Dewi bisa tahu file yang sangat dilindungi dengan pengamanan 3 lapis. Lapis pertama, ganti nama file menjadi nama yang sangat wajar, lapis kedua, berikan kata kunci pada folder yang menyimpan file rahasia, lapis ketiga, atur folder menjadi invisible.

Gak usah gitu juga kali tampangnya ! ejek Dewi, setetes air mengalir di pipi berlesung pipit.

Kamu lagi sedih ya Dew, Khafi mendekat, duduk disamping Dewi. Safira pernah cerita kalo kamu pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti.

..

Dewi hanya mengangguk.

Mengetahui kehilangan dan rasa sakit, bersedih lalu menangisinya, adalah jalan untuk menjadi lebih kuat. Tapi ada kalanya seorang manusia harus berdiri dan melawan semua rasa pahit di dunia ini, Khafi berdiri, lalu membungkukkan setengah tubuhnya, kemudian dengan sangat elegan dia menyodorkan tangannya ke arah Dewi.

..

Dewi memandang Khafi yang juga sedang memandangnya, dengan sedikit keraguan, Dewi mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Khafi. Digenggamnya tangan Dewi dengan begitu erat, dengan sedikit tarikan, Dewi mengikutinya dan berdiri.

Telunjuk Khafi menekan tombol media player pada keyboard laptopnya, hingga terbuka jendela media untuk memutar musik. Sebuah instrument piano terdengar dari kisi-kisi speaker laptop.

Khafi memutar tubuh Dewi, lalu mendekapnya dari belakang melingkarkan tangannya di pinggang Dewi, menghembuskan nafasnya disela-sela telinga Dewi. Apa kamu yakin jika dia bahagia disana ?

Dewi menyandarkan kepalanya dipundak Khafi, dia menggenggam tangan Khafi, Yah, sangat yakin.

Jika dia bahagia disana, apa kamu harus bersedih disini ? Khafi menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri secara perlahan, Dewi mengikuti setiap irama langkah Khafi.

Maka bahagialah disini bersamaku, jemari Khafi mulai mengisi sela-sela jemari Dewi, dengan perlahan memutar tubuh Dewi hingga mereka berdua berhadapan.

Siapa kamu ? Dewi menatap Khafi dalam-dalam.

Aku adalah takdir keindahan, yang bersemanyam di sisa-sisa kepedihan, dan bersembunyi di sela-sela kerapuhan, jemari Khafi berjalan diantara pungung Dewi.

Saat nafasku berpadu dalam nafasmu
Maka kudapat bernafas kembali
Roh telah menyentuh keharuman raga
Saat kau datang mendekat
Wajah mereka saling dekat, dekapan lengan Khafi yang melingkar di tubuh Dewi semakin erat. Dewi mulai mendekap tubuh Khafi, dapat mereka rasakan aroma nafas yang berpadu diantara hidung dan bibir mereka.

Denting piano mengalir bercampur dengan rasa-rasa yang mulai terjalin antara Dewi dan Khafi. Mengiringi gerakan lembut mereka berdua yang nampak kompak ke kiri dan ke kanan.

HHhmmmmm, bibir mereka menyatu, saling mengecup, saling berpandangan, saling merasakan kelembutan desiran nafas yang menjalar.

Khafi melangkah mundur, Dewi mengikuti setiap langkah Khafi, tubuh mereka masih saling merangkul. Bibir mereka masih saling menyecup, dan mulai menggerak-gerakan.

Ssshhhhh, kecupan mereka semakin dalam, saling membuka bibir dan menjulurkan lidah mereka hingga bertemu.

Khafi bersandar pada tembok, Dewi menarik tangan tangannya sendiri, lalu mengalungkannya ke leher Khafi. Kecupan mereka berubah menjadi lumatan, liur mulai membasahi bibir mereka.

Cccchhhhhh, Dewi tersenyum sejenak menatap Khafi yang juga ikut tersenyum. Jemari Khafi merayap ke punggung Dewi lalu menuju rambut Dewi, di tarik tubuh Dewi hingga mereka berdekapan sangat erat.

Mmmhhhh, kembali mereka saling lumat, lebih dan lebih dalam lagi, tarian lidah mereka sudah sedemikan lihainya menggetar-getar beradu.

Sampai kapan seseorang dapat menjaga kesadarannya
Bila kesadaran melayang, biarkan ia melayang
Saat hati berjalan di jalan yang lurus
Bila jalan itu berbelok, biarkan ia berbelok

Kali ini Dewi yang memundurkan langkahnya, diikuti oleh Khafi yang bergerak maju, tanpa melepas pelukan dan tanpa menghentikan lumatan bibir mereka. Hingga betis Dewi menyentuh bagian pinggir ranjangnya.

Tiba-tiba Dewi melepas pelukannya, mendorong Khafi dengan senyuman manis tergores dibibirnya. Tapi sebelum Khafi terhempas jauh, Dewi menahan tangan Khafi. Dewi memutar tubuhnya, berputar-putar diantara tangan Khafi hingga mereka berdekapan.

Cupp. Sebuah kecupan mampir di pipi berlesung pipit Dewi, dia tersenyum mengangkat sedikit bahunya, seluruh tubuhnya menjadi merinding.

Jadi begini cara lo memikat wanita ? ucap Dewi dalam sandaran di tubuh Khafi.

Bukan, ini hanya cara kita untuk tersenyum, Khafi mengecup rimbunan rambut bergelombang milik Dewi.

Instrument musik yang berputar di laptop Khafi semakin syahdu, untaian denting piano diiringi gesekan busur pada senar-senar biola semakin menyatu dengan dekapan kedua insan itu, yang diiringi oleh kecupan-kecupan lembut dan belaian-belaian mesra.

Mengapa mataku tampak berkaca-kaca?
Maka kemudian sentuhlah aku dan katakan
Sudahkah kau bersumpah atas diriku?

Saat kulewatkan malam dalam pelukanmu
Maka pagi tampak begitu redup
Apakah kau mulai tinggal di dalam mataku
Pecinta yang mengagumi dalam goresan

Safira merebahkan tubuhnya di sebuah kursi rotan yang ada dihadapan sebuah meja kayu. Ruangan yang ia tempati nampak remang, hanya bercahayakan sinar dari lampu duduk yang menerangi sebuah buku besar dengan ukiran kaligrafi membentuk segores kata pada sampulnya.

Bunga Harapan

Safira mengambil sebuah pena yang berhias bulu merak di samping buku itu. Dibukanya buku itu, lembar demi lembar terlihat rangkaian tulisan yang tergores indah diatas kertas-kertas berwarna putih. Walaupun kata yang tergores tak seindah rangkaian huruf yang berjejer rapi.

Hingga sampai pada lembar kosong yang masih berwarna putih, Safira tersenyum simpul, mulai menggoreskan penanya di atas kertas putih.

Dia adalah pralambang kesempurnaan diantara puing-puing fana. Dia hadir membawa kemilau dari matanya, menatap jauh menerobos batas sang waktu yang dia ingin hentikan. Dia adalah seorang pemimpi yang hanya memiliki hasrat dan ambisi melampaui kesadaran makhluk pada umumnya.

Dia datang menjulurkan cahaya yang menjilati gelapku, hingga aku rela terbakar hangus oleh panas cahaya darinya. Dia mengetuk pintu keheninganku, dan mendapati diriku yang lemah dan tak berharga, yang bersembunyi dibalik senyum manis diantara guncangan hati yang meraung-raung.

Masih teringat jelas genggaman tangan yang begitu kuat, tapi lembut. Hingga mampu mengetarkan relung-relung yang selama ini tenggelam dalam gelapnya rasa masin dan pahit kehidupan.

Tergetar sanubari karna indah tatapannya. Tatapan yang membayangi setiap keindahan yang menyala-nyala.

Aku berbicara pada bintang-bintang yang bisu, untuk menyampaikan pada rembulan agar segera meredupkan cahayanya. Karna sudahlah cukup cahaya darinya untuk menyinari gelapku, walau hanya bisa aku rasakan dari balik puing kotor dihadapanku.

Aku adalah seorang perenung, pengiba hati yang batinnya bertarung diantara kosong dan keinginan yang rapuh. Sementara dia adalah sesuatu yang belum terungkap, tapi mampu membuka pintu-pintu harapan yang berkibar diantara angin dari timur.

Wahai sang pralambang, bagaimana aku bisa menyentuh hatimu yang dipenuhi keinginan-keinginan kuat, bila hatiku sendiri bagai sebatang ranting rapuh yang meriap-riap diantara angin musim gugur yang berhembus begitu kuat menerpa pohon tua yang hanya tinggal menunggu sang rayap serta semut menggerogotinya ?

wahai jiwa yang dipenuhi keyakinan hebat, bagaimana aku bisa menyatu dengan jiwamu, jika jiwaku hanya sekeping ratapan yang terjebak diatara noda-noda kehidupan ?

Biarlah aku tersenyum memandangmu dalam goresan penaku, biarlah aku bergetar memelukmu dalam guratan tintaku. Biarlah aku mewangi mengecupmu dalam untaian syair burukku.

Dari seseorang yang sangat payah dalam menggoreskan pena, dan mengguratkan tinta. Seseorang yang hanya bisa mengecup serta memelukmu dalam secarik kertas putih.

Safira menghela nafasnya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu meletakkan penanya. Dia menatap remangnya atap rumah yang terproyeksi kerlap-kerlip lumba-lumba.

seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadamu
yang terindah dalam hidupku
Bersambung….

Author: 

Related Posts