Cerita Sex Janur Kuning

Cerita Sex Janur Kuningby adminon.Cerita Sex Janur KuningJanur Kuning Harusnya kamu tu mikir! Buat apa aku ngelakuin itu? Teriakan lelaki itu mengagetkan orang di sekitarnya. Wajahnya menegang, alisnya menyatu, nada suaranya tinggi. Telepon genggam ditangannya telah lima belas menit menempel di pipi, namun pembicaraan serius lelaki itu tidak kunjung selesai. Beberapa bentakan dan makian keluar dari mulutnya. Dia menelepon sambil mondar-mandi di […]

multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-3 multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-4 multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-5Janur Kuning

Harusnya kamu tu mikir! Buat apa aku ngelakuin itu? Teriakan lelaki itu mengagetkan orang di sekitarnya. Wajahnya menegang, alisnya menyatu, nada suaranya tinggi. Telepon genggam ditangannya telah lima belas menit menempel di pipi, namun pembicaraan serius lelaki itu tidak kunjung selesai. Beberapa bentakan dan makian keluar dari mulutnya. Dia menelepon sambil mondar-mandi di sudut rumah, menghindari teman-temannya. Terkadang dia bersandar di tembok seperti orang kelelahan. Raut wajahnya menegang sejak dia menjawab teleponnya.

Sementara beberapa ratus kilometer dari tempat lelaki itu, ada seorang gadis yang duduk di atas ranjang, memeluk bantal, tangannya meremas-remas bed cover berwarna jingga. Wajahnya meringis, air mata mengucur deras di pipinya. Tubuhnya naik turun menahan emosi. Gadis itu bersuara lirih, hampir tak terdengar. Tangis sesenggukan tertahan, memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan orang di telepon. Suaranya patah-patah menahan tangis.

Aku gak tau siapa yang ngirim foto itu sama kamu, aku gak ada bikin foto itu, itu aku lagi nolongin Meta, sekali lagi lelaki itu mencoba menjelaskan.

Aku gak percaya…. kamu pembohong… aku udah… udah liat semua… aku punya buktinya…

May… itu gak kaya yang kamu pikirin.

Dari awal temen-temen aku udah bilang… dari awal kita udah beda… gak akan pernah bisa bareng.

Jadi kamu sekarang ngomongin perbedaan? Dulu kamu kemana waktu aku tanyain masalah ini?

Gadis terdiam beberapa saat Jangan hubungi aku lagi! kali ini nada suara gadis itu meninggi dan tegas.

May…

Sambungan teleponnya terputus dengan sukses. SH*T! Lelaki itu memaki sambil menggeleng. Kembali ditekannya angka kombinasi nomor telepon yang sudah 3 tahun dihapalnya. Beberapa kali percobaan panggilannya ditolak, hingga akhirnya nomor tujuannya tidak aktif.

Lelaki itu menarik nafas panjang. Dia terdiam sesaat sebelum berjalan ke arah teman-temannya. Tiga orang temannya yang tadinya sibuk bercerita, kompak terdiam dan memandang, seakan menunggu sebuah penjelasan.

Lelaki itu memandang satu per satu temannya yang duduk diam mengelilingi api unggun. Masing-masing dari mereka membawa sebuah kipas bambu. Suasana ini canggung. Empat orang laki-laki, 3 orang berjongkok di depan api unggun dan seorang berdiri tidak jauh dari mereka. Terdiam dan menunggu pergerakan. Bagaikan samurai yang akan mengadu pedang, salah gerakan akan berakibat fatal.

Beberapa menit mereka terdiam, hingga akhirnya lelaki yang menelepon tadi* membuka suara, Bam… Bama?

Iya bro, orang yang dipanggil menyahut.

Bam itu bam, tangan lelaki itu menunjuk api unggun,raut wajahnya panik.

Apaan?? Bama menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjukan, ANJRIT! Ikan kita gosong bray! Buru, angkat! Angkat!

*****J-K*****

Bama membawa ikan setengah gosong di tangannya, dia duduk di sebelah lelaki yang menelepon tadi. Tangannya merobek secuil daging ikan, menempelkannya pada sambal dan memakannya. Mulutnya mendesah kepedasan, tangannya mengipas di depan bibir. Jadi? Gimana tadi? Bama bertanya pada kawan di sebelahnya.

Apaan?

Loe ama Maya, kalian tadi betengkar lagi?

Iye…

Tapi udah damai kan?

Entahlah… Lelaki itu menggeleng.

Lah trus gimana?

Gimana apanya?

Hubungan kalian?

Kalo mentok ya udah, tinggal putus… gampang kan? jawab lelaki itu memasang gaya aku rapopo.

*****J-K*****

Ada yang bilang putus cinta akan membuat manusia tidak enak makan, tidak enak tidur, dan tidak enak mandi. Seminggu setelah kejadian malam itu, lelaki yang kita tahu telah bergaya aku rapopo sebelumnya, mulai merasa kesepian. Rasa rindu mulai menyerang. Berbaring tak tenang dalam kamar kosnya, untuk kesekian kali dia melihat layar handphone, namun tak ada satupun pesan masuk dari gadis yang di teleponnya tempo hari. Sudah berulang kali dia berusaha menelepon namun tante si gadis yang selalu menjawab, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

Media sosial yang biasanya menghubungkan antara mereka berdua, telah di blokir secara sepihak oleh Maya, pujaan hatinya. Bukannya tak ada keinginan untuk menyambangi rumah gadis itu, ldr dengan jarak yang cukup jauh membuat lelaki itu menunda niatnya. Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk bertemu. Dengan pekerjaan bergaji kecil, itu hampir mustahil dilakukan dalam waktu dekat.

Singkat kata, tokoh utama cerita ini, mengalami penyakit yang biasa disebut alay zaman sekarang sebagai : Galau Kronis.

*****J-K*****

Udah bray, jangan bengong mulu, kata Adi menyemangati kawannya.

Iye ni, udah sebulan juga loe putus ama Maya, masih aja kaya ababil gini. Masa play boy galau? Bama menambahkan dengan nada menyindir.

Orang yang disemangati hanya terdiam dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

Daripada loe sedih mulu, mending tar pulang kantor kita jenguk si Beni di rumah sakit.

Wah ide bagus tuh, Bam. Dia kan abis operasi usus buntu nih, kan banyak tuh yang jengukin, pasti banyak makanan yang bisa kita palakin, tambah Adi.

Kampret! Makanan aja yang loe pikir. Temen kita noh, tekapar. Bama menjitak kepala Adi. Trus loe mau ikut gak bro?

Lelaki yang duduk di kantin kantor satu meja dengan mereka memandang bergantian kedua kawannya dan menjawab dengan singkat, boleh.

*****J-K*****

Hai Ben? Gimana keadaan loe? Udah mendingan? sapa Adi begitu memasuki bangsal VIP tempat Beni dirawat. Satu persatu ketiga kawannya menyalami Beni

Udah nih, Cuma belom boleh gerak banyak, takut jaitannya lepas, jawab Beni menyambut salaman tangan Adi.

Cepetan ngantor lagi Ben, orang kantor pada kangen ama elo. Bama berseloroh saat menyalami Beni.

Hahaha, bisa aja loe

Cepet sembuh ya Ben, rasanya *kurang kalo loe gak ada.

Beni tersenyum mendengar ucapan kawan yang terakhir menyalaminya. iya bray, gw juga bosen disini.

Adi mulai bergerilya, membuka bungkusan kantong plastik berisi jeruk di atas kabinet kamar. Obrolan mereka dimulai, empat orang teman sekantor, satu tim kerja dan satu kos berbicara tak tentu arah. Mulai dari kerjaan kantor, hingga sekretaris barunya bos. Dari politik hingga ukuran bh Julia Perez. Sedang asiknya bercerita, tiba-tiba pintu bangsal diketuk.

Permisi… Dua suster masuk tanpa dipersilahkan, satunya membawa papan mirip papan ujian nasional dan pulpen, seorang lagi mendorong kereta besi penuh obat-obatan, sudah waktunya minum obat bapak Beni.

Ahh, iya, jawab Beni singkat.

Dengan sigap Suster yang tadinya mendorong kereta obat mengambil beberapa pil, segelas air putih dan alat pengukur tensi.

Sembari minum obatnya, tensi Beni diukur dan dicatat.

Keempat lelaki itu terdiam khidmat. Bukan karena keseriusan para suster itu, tapi karena pemampilan kedua suster yang muda dan cantik. Adi bahkan menghentikan makannya untuk dapat mencuri pandang pada suster yang mengukur tensi Beni. Hanya Beni yang menjawab begitu ditanya tentang keluhan pasca operasi.*

Yak, sudah selesai, sampai besok, Pak Beni belum boleh banyak gerak dulu ya.

Iya suster, jawab Beni patuh.

Suster, kira-kira kapan temen saya ini boleh pulang? Bama bertanya.

Besok pagi dokternya yang akan memeriksa lagi jahitannya, kalau semua normal, besok sore sudah bisa pulang kok. Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu, mari.

Iya, mari. Keempat lelaki itu menjawab hampir bersamaan.

Ckckckck… cantik amat yak tu suster? Adi membuka suara begitu perasaannya yakin kedua suster itu sudah berjalan cukup jauh.

Iya nih… Enak banget dah jadi si Beni. Eh, tadi siapa namanya yang meriksa elu Ben?

Alih-alih Beni, jawaban malah meluncur dari mulut lelaki galau, namanya Tri… Triyati.

*****J-K*****

Author: 

Related Posts