Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Empat – Part 19

Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Empat – Part 19by adminon.Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Empat – Part 19 Enam – Part 19 Bab IV Awal dari Akhir Bagian Empat Eh brengsek, napain maneh di sini? Ngintip? Udin cepat bangkit, namun tidak sendiri, tangannya yang masih di dalam celana dalam Icha masih di sana, tangan kanannya yang membantu Icha berdiri masih juga berada di atas dada Icha. Sementara Icha sibuk memalingkan wajah dan menutup […]

tumblr_nvbh3huxi31r90a2to5_1280tumblr_nvbh3huxi31r90a2to4_1280  tumblr_nvbh3huxi31r90a2to6_1280Enam – Part 19

Bab IV
Awal dari Akhir Bagian Empat

Eh brengsek, napain maneh di sini? Ngintip?
Udin cepat bangkit, namun tidak sendiri, tangannya yang masih di dalam celana dalam Icha masih di sana, tangan kanannya yang membantu Icha berdiri masih juga berada di atas dada Icha. Sementara Icha sibuk memalingkan wajah dan menutup auratnya.
Maneh oge Jawa, ngapain ngentot ama cewek orang, mau dilaporin hah? Udin bales menggertak, walaupun hatinya tertawa.
Ketegangan terpancar dari wajah Yuni. Suasana menjadi diam.

Udah Din, yuk, kita pulaaanngg, ah. Udah Din, malu. Udaaahhhh. Icha mencoba menengahi, namun kobelan Udin di vaginanya masih terasa.
Eh, jangan gitu lah Din, kita kan sahabat. Masa maen matiin nih. Please deh, entar di kasih soto tiap hari. Bima mencoba berakting.
Lah, apanan udah lulus bentar lagi juga.
Jadi mau kamu apa Din, apa aja, tolong jangan bilang-bilang ama Satrio. Kali ini Yuni yang memelas. Badannya masih di tutup oleh bantal.
Gampang, saya masih mau main ama Icha, ini udah tanggung, tapi saya pengen kalian juga tetep main. Udah tanggung juga pan? Kita bareng aja di sini.
Gila maneh Din? Mau bareng disini? Kembali Bima berakting, dalam hatinya dia memuji taktik sahabatnya yang satu ini.
Yoi, ato mau saya laporin nih?

Aaaahhhh, mmmmmmmm, kasiannnn Din. Aahhh. Icha masih saja mendesah, walaupun kini badannya berdiri menghadap Udin, sehingga bagian depan tubuhnya tidak terlihat oleh Bima dan Yuni, namun justru Udin lebih leluasa memasukan jarinya di bawah sana.
Bima menatap Yuni penuh arti, dan dengan wajah pasrah. Yuni berdiam diri untuk beberapa saat, tampak menimbang-nimbang keputusan, sampai akhirnya dia mengangguk kecil tanda setuju.

Baik Bima dan Udin sama-sama tersenyum, tanpa sepengetahuan Yuni dan Icha.
Ayo, gih, main agi sana. Perintah Udin. Dan Bima seperti yang ketakutan mulai mendekati Yuni, Maaf ya Yun, jadinya kaya gini. Pinta Bima pura-pura, Yuni hanya diam, sediam ketika Bima mulai kembali menciumi lehernya, kemudian mengecup bibirnya, memaksa lidahnya untuk masuk. Sementara itu Udin mendorong tubuh Icha agar lebih masuk ke dalam kamar. Tangannya masih tetap meremas buah dada kanan Icha, dan jari nya masih berada di dalam vagina Icha, semakin mudah dia memainkannya.

Yuni masih membalas ciuman Bima dengan canggung, Bima, dilain pihak, mulai kembali menjelajahi seluruh badan Yuni yang dianggap bisa membangkitkan gairahnya. Kedua buah dada Yuni diremasnya, dipilinnya puting Yuni yang merah muda itu. Diciuminya leher jenjang Yuni, telinga dan tengkuk putih Yuni. Bima mencoba merangsang Yuni habis-habisan, dan setelah beberapa menit, dia berhasil.
Aaahhhhhhh, Bimmmm, maluuu.
Gak usah malu sayang, nikmatin aja. Bisik Bima di telinga Yuni, tangan kanannya kini mulai kembali turun ke arah vagina Yuni, Basah. Pikir Bima. Jari tengahnya mulai memasuki vagina Yuni yang sudah basah, dimainkannya lubang itu, kini jari telunjuknya pun ikut bermain, masuk secara bersamaan, bahkan jari manisnya pun turut meramaikan.
Biimmmmmmm, ssssssssss…aaaaaaaaaaaaaaaahhhh.
Enak sayang?
Banget Bim. Ah, terussss.
Bentar ya, saya udah gak kuat, ganti posisi. Bima kemudian membalikan badan Yuni, membuat Yuni mengungging, dengan kepala menempel di kasur. Saya masuk ya say?
He em.

Bima memposisikan dirinya di belakang Yuni, penisnya dia arahkan ke lubang vagina Yuni yang sudah banjir. Tubuh Yuni sedikit tersentak kala penis besar itu mulai memasuki tubuhnya. Bima yang sudah tidak tahan, langsung mempompa dengan cepat.
Ah ah, eeeeemmmm, enakkk sayang, entotin Yuni. Aaahhhhhh.
Mendengar desahan, rintihan dan omongan jorok Yuni, Bima langsung meraih pundak Yuni, menariknya, hingga kini punggung Yuni menempel pada dadanya. Tangan Bima kemudian beralih ke depan, meraih sepasang buah dada Yuni yang pas ditangannya itu, meremasnya dengan sangat keras, sambil penisnya terus mengenjot vagina Yuni dengan dahsyat.

Aaaaaaawwww, Bimmmmma, ah, pelan-pelan, ah ah ah aaaaahhhhhhhhhhhhhhhh.
Kini malah Bima menggenjot Yuni dengan sangat cepat, kedua pergelangan tangan Yuni di genggam oleh Bima, tubuh Yuni corong ke depan.
Ah aaaahhhhhhhhhhhhmmm, Bimaaaaaaaaaaaaaa !
Pegangan tangan Bima dipergelangan tangan Yuni terlepas, orgasme yang dialami Yuni sangat dahsyat, sampai-sampai penis Bima pun terlepas dari lubang vagina Yuni.

Udin yang melihat itu sampai berdecak, dia kini dalam keadaan telanjang bulat, begitu pula Icha. Posisi Icha di atas Udin. Dengan posisi Woman On Top. Udin bebas meremas buah dada Icha yang besar dan montok. Puting Icha yang sudah mengeras sedari tadi dipilin dan ditarik. Icha sendiri rupanya bersemangat, melihat permainan Yuni dan Bima, terutama melihat penih Bima, yang ukurannya lebih besar daripada Gusti dan Udin. Lebih keras menegang.
Ah, terus Din, yang keraaasssss, ah, dalem, dalemmmmm. Ahhhhh, Udinnnnnn. Icha terus menggoyangkan badannya, seperti orang yang kemasukan, digoyangkan pula pinggulnya, Udin kepayahan menerima permainan Icha.
Pelan-pelan Chaaa, aaahhhh, Ichaa, udah mau keluar nih.
Bentar sayang, Icha juga bentar lagiiiihh, tungguuuu.

Udin tidak mau kalah, gengsi dihadapan Bima dan Yuni, mulai mengatur nafas, dan tangan kanannya turun, dari buah dada menuju pantat Icha. Bagian sensitif lainnya yang belum pernah dia eksplor lebih jauh. Jari tengah Udin mulai memainkan lubang pantat Icha, sedikit memasukannya.
Iiiihhhhh, Udinnn, ngapain, kotorrr, aaaahhhhhh. Namun Icha yang sedang mengejar orgasme tidak mau berhenti, terus dia mainkan pinggulnya, menyiksa penis Udin didalamnya. Sampai permainan tangan kiri Udin yang terus memilin putingnya dan meremas buah dadanya, juga jari Udin yang menggoda liang anusnya membuat Icha mencapai orgasmenya. Aaaaahhhhhhhhhhhhhhh, keluarrrrrr. Banyak sekali, cairan itu dirasakan Udin meleleh, mengenai perutnya. Keluar dari vagina Icha.
Mengejang, tubuhnya terhentak ke belakang. Ini digunakan oleh Udin untuk bangkit, mengangkat tubuh Icha yang masih menikmati orgasenya ke arah ranjang dimana Bima dan Yuni kini melanjutkan permainan mereka dengan gaya misionaris. Dibaringkannya Icha persis di sebelah Yuni yang sedang kapayahan. Rambut Yuni sudah acak-acakan, peluh di sekujur tubuh, desahannya terdengar sangat menggairahkan.

Disamping Yuni, Icha kini sedang dinikmati buah dadanya oleh penis Udin, breast fuck, dengan semangat Udin mengejar orgasmenya yang tadi hampir datang, sampai dia akhirnya sudah tidak tahan, Ahhhhh, Ichaaaa, enak pisan, ah, keluar. Udin mengarahkan penisnya ke mulut Icha. Sudah mulai terbiasa, Icha kemudian membuka lebar mulutnya, dan menerima seluruh semprotan sperma Udin yang masuk ke dalam mulutnya, menelannya, kemudian menjilati penis Udin sampai bersih.
Disamping mereka, Yuni kembali mendapatkan orgasme, badannya berkelenjotan, menegang, lalu diam. Bima tidak meneruskan menggenjot Yuni, malah berkata, Loh, udah maneh? Bentar banget.

Sia Jawa, kamu mah udah sering maen, hah hah. Jawab Udin dengan nafas ngos-ngosan.
Mangkana, diajar, nih, saya contohin.
Namun Bima tidak meneruskannya dengan Yuni, alihi-alih kembali mengerjai Yuni, Bima mendekati Icha, diarahkannya penis besar itu ke vagina Icha yang masih becek.

Ih, mau ngapain kamu Bim. Ah, Udin, Bima mau, aaaaahhhhhhhhhhhhhhhh. Ucapan Icha terputus, seluruh penis Bima yang besar itu kini amblas di dalam vagina Icha, tidak terima, Icha langsung berontak, namun ciuman Bima di bibrinya, remasan tangan dibuah dada Icha yang lebih besar dari milik Yuni, membuat Icha menyerah. Biar saja, Icha pikir, ini bukan yang pertama.
Mmmmmpppp, Biimmmmm. Ahhhh, ssssss. Terus, yang dalemmmmm, aakhhh. Gede bangettt.
Udin sedikit cemburu mendengarnya, namum dia tidak telalu ambil pikir, Gelo, maneh ngentot kabogoh urang. Udin berpura marah, dia kemudian mendekati Yuni. Didekati oleh Udin, Yuni berusaha beringsut menjauh, namun sisa-sisa orgasme tadi benar-benar membuat dia lemas, dia hanya bisa pasrah ketika Udin meremas sepasang buah dadanya yang imut itu.

Jangann ada bekas Din, jangan di cupang. Pinta Yuni, lirih.
Siap, slurrppp. Udin kemudian melahap buah dada kanan Yuni hingga seluruhnya masuk ke dalam mulutnya. Jari-jari yangan kirinya memilin puting Yuni yang berwarna merah muda. Sedangkan tangan kananna kini berada di atas vagina Yuni. Bergerak, mencari-cari klitorisnya.
Aaahhhh…. yaaa, di situuuu. Tersipu malu, Yuni tidak bisa menolak gejolak birahi yang dirasakan, bahkan ketika Udin turun, mulai menjilati vaginanya yang becek, memasukan lidahnya ke dalam lubang kenikmatannya, dan jari-jari Udin yang memainkan klitorisnya, membuat Yuni semakin tidak berdaya.

Sementara itu, di luar kamar, dua sosok bayangan sedang menonton mereka, Lidya dan Gusti. Mereka masih berdiri tegang, nafas Lidya sudah sedari tadi ngos-ngosan, tangannya sudah memegang pundak Gusti. Gusti sendiri masih berdiri mematung, melihat pemandangan itu. Ragu-ragu, apa mau terus melihat, pergi, atau ikut bergabung. Dia melirik ke kanan, Lidya mulai meremasi buah dadanya sendiri, tangan kirinya masih meremasi kemeja Gusti.

Kemudian tanpa menunggu lama, Gusti memeluk Lidya, disandarkannya Lidya ke tembok sebelah pintu kamar Bima, dan mulai menciumnya.
Dahsyat sekali ciuman Gusti dan Lidya, namun mereka berusaha melakukannya sepelan mungkin, meminimalisasi suara yang keluar. Tangan Gusti sudah merayap masuk ke dalam kaos Lidya, meremasi sepasang buah dada yang kecil itu. Puting Lidya sendiri sudah sangat keras, mudah bagi Gusti untuk mempermainkannya. Ciuman Gusti merayap ke arah telinga, menjilati telinga Lidya, menggigit-gigit kecil, lalu turun ke lehernya yang jenjang. Terus Gusti menjilati leher Lidya, turun ke dadanya, mengangkat kaos yang digunakan Lidya, melepaskannya, hingga kini Lidya hanya menggunakan BH. Sapuan lidah Gusti dilanjutkan, di atas buah dada Lidya, dan terus turun ke perut Lidya yang rata. Lalu Gusti melepas sabuk Lidya, menurunkan jeans yang Lidya kenakan langsung dengan celana dalamnya. Praktis, kini Lidya hanya menggunakan BH. Sasaran Gusti selanjutnya sudah bisa ditebak.

Aaaaaaahhhhhhhhhh. Di dalam kamar Icha berteriak, orgasme kembali dia rasa, namun genjotan Bima tetap kencang, lemas, Icha berusaha mengimbangi permainan Bima. Kepalanya menoleh ke kanan, dilihatnya kekasihnya sedang menggenjot Yuni dengan gaya Dogy, tubuh Yuni sendiri sudah terlihat tidak bertenaga, kepalanya menempel di kasur, rambutnya yang hitam panjang, acak-acakan di atas kasur itu. Tangan kanan Yuni terlihat meremas sprei, namun tangan kirinya ditarik oleh Udin ke belakang, Udin terlihat sangat menikmati permainan ini, atau lebih tepatnya, tubuh Yuni.
Hhheeehh, memek kamu sempit juga Yun. Ahhhh, nikmat.

Ahhh, iaaaahhhh, kontol kamu Din, mentok, panjanggg. Ahhhh. Terusssss.
Tidak lama berselang, kepala Yuni terangkat, mulutnya terbuka namun tak bersuara, dia kembali orgasme, Udin melihat ini menjadi bersemangat, kembali digenjotnta Yuni dengan kecepatan tinggi, dan Aaaahhhh. Keluar, Udin menyemprotkan spermanya di dalam vagina Yuni. Udin tahu, Yuni selalu menggunakan pil. Bima pernah bercerita, jadi dia tidak khawatir saat menyemprotkan sperma ke dalam rahim Yuni.
Heh, hahaha, udah maneh Din? Hah hah. Tanya Bima, masih menggenjot Icha.

Hah, hah, heu euh, maneh hebat lah, bisa tahan. Tapi jangan keluar di memek Icha, bisi hamil. Udin ngos-ngosan menjawab. Siap bro.
Udin dan Yuni masih mengatur nafas, beristirahat, tangan Udin, namun, kini memainkan buah dada Icha, melihat kekasihnya yang sangat kepayahan dengan campuran rasa kasihan dan nafsu. Sampai Bima berteriak dan mencabut peinisnya yang besar dari vagina Icha, dan menyemprotkan spermanya banyak sekali. Sebagian mendarat di perut Icha, bahkan ada yang sampai wajah Icha, namun sebagian pastinya mendarat di buah dada Icha dan tangan Udin yang sedang meremasinya.
Anjrit, geuleuh sia Bima.
Hahahahaha, sori bro, abis nikmat.
Nya tapi bilang-bilang kalo mau disemprotin gitu.
Bima kembali tertawa, menjauh dari tubuh Icha, dan baru, kini mereka mendengar suara desahan dan rintihan dari balik pintu. Bima dan Udin saling pandang. Panik, mereka berdua bangun. Bima memberi isyarat pada Udin untuk melihat, Udin menolak. Ini pan rumah kamu, sok, sana periksa. Bisik Udin. Yuni dan Icha kini saling berdekatan, masing-masing memeluk bantal dan selimut. Bima, akhirnya melangkahkan kakinya pelan ke arah pintu, dan dia terkejut melihat pemandangan di sana. Lidya dan Gusti yang sedang bercinta, posisi Lidya ada di atas Gusti namun membelakanginya, WOT tapi terbalik.
Heyyyy!!!! Bima membentak, mengagetkan keduanya.

Aaaaaaahhhhhhh. Lidya berteriak, namun tak berhenti, rupanya dia mendapatkan orgasmenya. Gusti sendiri sedang menhujamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Lidya, karena diapun sama, sedang menyemprotkan spermanya ke dalam vagina yang mungil itu.

==========
Rian memberanikan diri menggemgam tangan Revi. Revi diam, ketika tangan kirinya mulai digenggam oleh Rian. Dipermainkan jarinya, malah kini, Revi memberanikan diri mendekatkan badannya ke arah Rian. Hingga akhirnya bahu Rian menjadi senderan kepalanya.
Segala rasa berkecamuk kini di dalam diri Rian. Senang, bahagia, takut, bersalah dan malu. Namun seakan tidak peduli, Rian kini justru malah memeluk Revi, menempelkan tangan kanannya di pinggang Revi. Hingga film berakhir.

Suasana itu pun masih ada, ketika Rian mengantarkan Revi pulang. Revi tidak ragu dan malu memeluk Rian. Dan mereka bercanda sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya motor Rian berhenti di depan gerbang berwarna coklat itu.

Hmmm, mau masuk dulu? Tawar Revi. Tawaran yang sulit ditolak. Rian hanya mengangguk mengiyakan.

——bersambung——

Author: 

Related Posts